Gawat Darurat:

(+6221) 6-684-686

Klik pada gambar untuk membaca Artikelnya

Oleh: dr Tities A Indra SpPD,KGH

 

Penyebaran virus Corononavirus Disease 2019 (Covid-19) telah menjadi masalah kesehatan yang dialami oleh seluruh negara di dunia. Sejak pertama kali dideteksi di kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019 hingga ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada tanggal 11 Maret 2020. Indonesia pertama kali mendeteksi keberadaan virus ini pada tanggal 2 Maret 2020 dan sejak saat ini angka kasus Covid-19 meningkat drastis. Sampai per tanggal 6 November 2021 tercatat sebanyak 4.247.721 kasus covid 19 positif dengan angka kesembuhan sebanyak 4.093.208 pasien  dan angka kematian mencapai 143.534 pasien. Kasus Covid-19 yang mulai melandai di sekitar Januari – Maret 2021 kembali mengalami lonjakan yang signifikan pada bulan April-Agustus 2021 yang dikenal dengan istilah gelombang kedua. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengendalikan penyebaran Covid-19 salah satunya dengan melakukan vaksinasi Covid-19.

Vaksinasi merupakan salah satu cara untuk mengendalikan penyakit infeksi menular dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh pasien sehingga tidak mudah tertular penyakit tersebut. Beberapa kondisi pandemi berhasil diatasi dengan pemberian vaksin seperti vaksin polio dan vaksin cacar. Pada September 2020 tercatat ada 11 vaksin yang menjadi kandidat vaksin Covid-19 yang telah melalui fase uji klinis untuk menilai efikasi, efektivitas dan faktor keamanan. Berbagai vaksin tersebut ada yang menggunakan platform virus yang dilemahkan, mRNA, vektor adenovirus, serta subunit vaksin. Adapun dasar mekanisme kerja vaksin adalah berfokus pada coronavirus spike protein (S Protein) dan variannya sebagai antigen primer covid 19 dimana protein S ini akan merangsang  sel B dan sel T untuk membangkitkan respon imun. Herd Imunity adalah suatu kondisi dimana terbentuk kekebalan tubuh secara luas pada suatu populasi terhadap suatu penyakit baik yang diperoleh akibat infeksi alami maupun vaksinasi. Pemberian vaksinasi covid-19 ditujukan untuk mempercepat tercapainya kondisi herd imunity. Seberapa besar persentase herd imunity yang harus dicapai tergantung dari derajat penularan dari penyakit tersebut. Covid-19 tergolong penyakit yang sangat mudah menular sehingga diperkirakan herd imunity > 90% diharapkan dapat memutus mata rantai penularan.

Seiring mempercepat pengendalian Covid-19 di Indonesia maka BPOM mengeluarkan surat izin penggunaan darurat pada tanggal 11 Januari 2021 untuk penggunaan vaksin Sinovac. Ijin penggunaan darurat terhadap Sinovac berdasarkan kajian hasil uji klinis tahap III vaksin yang dilakukan di Bandung terhadap 1500 relawan vaksin selama 3 bulan. Hasil uji klinis tersebut menunjukan efektivitas vaksin Sinovac sebesar 65.3%. Sehingga Sinovac resmi menjadi vaksin Covid-19 yang pertama kali diberikan di Indonesia. Sinovac merupakan vaksin yang berasal dari virus yang dimatikan dengan jumlah dosis yang diberikan sebanyak 2x dengan jeda pemberian dosis 28 hari. Menyusul vaksin Sinovac, pada tanggal 16 Febuari 2021 dikeluarkan surat izin penggunaan vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma. Vaksin Bio Farma ini menggunakan bahan baku vaksin yang sama dengan Sinovac hanya saja bentuk kemasannya yang berbeda dimana 1 vial vaksin BioFarma berisi 5 mL yang dapat digunkana untuk 10 dosis vaksin.  Vaksin ini cukup stabil dengan suhu penyimpanan 2-8 derajat Celcius. Vaksin BioFarma juga diberikan 2x dengan jeda waktu 28 hari dimana dosis penyuntikan 0,5 mL. Vaksin ketiga yang mendapatkan izin edar di Indonesia adalah vaksin Astra Zeneca . Vaksin ini berbeda dengan kedua vaksin sebelumnya dimana vaksin buatan farmasi Inggris ini menggunakan viral vektor. Vaksin ini diberikan 2x penyuntikan dengan jeda waktu 12 minggu. Berdasarkan data vaksin ini memiliki efektivitas 62,1%. Vaksin Astra Zeneca sempat mengalami keraguan terkait komplikasi yang timbul yaitu masalah hiperkoagulasi meskipun ini tidak terbukti. Vaksin keempat yang beredar di Indonesia adalah vaksin Sinopharm yang juga berbasis virus yang dimatikan. Vaksin Sinopharm diberikan sebanyak 2x dengan jeda waktu pemberian 21 hari dan mengklaim efektivitas mencapai 78%. Pada bulan Juli 2021 BPOM mengeluarkan surat izin edar penggunaan vaksin Moderna dan Pfizer. Kedua vaksin ini merupakan vaksin yang berbasis mRNA vaksin. Berdasarkan uji klinis fase ketiga vaksin moderna menunjukan efektivitas vaksin sebesar 94.1% pada kelompok umur 18-65 tahun dan 86,4% pada kelompok umur diatas 65 tahun. Hasil uji klinis juga menunjukan vaksin moderna aman digunakan pada populasi dengan komorbid seperti penyakit autoimun maupun pasien dengan imunokompromais. Vaksin Pfizer yang dikembangkan oleh Pfizer Inc dan BionTech mengklaim efektivitas 100% pada usia remaja 12-15 tahun dan turun menjadi 95.5% pada usia diatas 16 tahun. Kedua vaksin ini diberikan 2x penyuntikan dengan jeda waktu 21-28 hari. Adapun vaksin nusantara yang dikembangkan oleh para ilmuwan di Indonesia yang menggunakan platform sel dendritik sampai saat ini belum mendapatkan surat izin edar dari BPOM.

Percepatan pemerataan vaksinasi di Indonesia menjadi target Pemerintah dalam rangka mengendalikan infeksi covid-19. Sampai tanggal 6 November 2021 telah didapatkan sebanyak 124.156.167 orang yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 dari target sasaran sebanyak 208.265.720 orang. Indonesia termasuk dalam lima negara di dunia yang sudah melakukan vaksinasi melebihi 100 juta orang. Efek samping yang ditimbulkan akibat vaksin cukup beragam. Umumnya efek samping yang ditimbulkan ringan seperti demam, timbul rash kemerahaan di area tempat penyuntikan, rasa gatal dan pegal otot yang umumnya segera membaik baik secara spontan maupun dengan pemberian obat-obatan simptomatik.  Meskipun ada efek samping yang cukup berat seperti miokarditis, hiperkoagulasi dan trombositopenia akan tetapi angka kejadiaanya sangat kecil sekali bila dibandingkan dengan jumlah penerima vaksin. Sehingga menimbang efek manfaatnya yang sangat besar, pemberian vaksin covid-19 direkomendasikan untuk orang berusia >16 tahun. Baru-baru ini vaksin covid 19 juga sudah direkomendasikan untuk diberikan bagi anak berusia diatas 6 tahun.

Pemberian dosis vaksin tambahan (additional dose) dirasakan perlu apabila didapatkan kondisi respon imun yang kurang setelah pemberian vaksin 2 dosis sebelumnya. Tujuan dari pemberian dosis tambahan untuk mengurangi risiko tertular virus covid 19. Orang usia tua dan pasien imunokompromais rentan memilik respon imun yang jelek terhadap vaksin covid 19 bila dibandingkan dengan usia muda ataupun pasien non-imunokompromais. Beberapa penelitian kecil menunjukan titer antibodi menurun setelah 5 bulan pasca pemberian dosis kedua. Sehingga WHO merekomendasikan untuk diberikan tambahan vaksin dosis ke 3 kepada orang usia lanjut (>65 tahun) atau usia 15-64 tahun dengan penyakit komorbid atau pasien imunokompromais. Vaksin dosis ke 3 sebaiknya diberikan dalam kurun waktu 3-6 bulan pasca vaksin dosis ke 2. Akan tetapi penting untuk diingat dan menjadi catatan penting pada negara-negara dimana  pelaksanaan vaksinasi dosis ke 2 belum mencakup mayoritas penduduk maka sebaiknya tetap diutamakan untuk pemerataan pemberian vaksin dosis kedua bagi seluruh penduduk dibandingkan pemberian dosis vaksin ke-3. Hal ini mungkin yang menjadi pertimbangan Pemerintah Indonesia untuk lebih mengutamakan percepataan pemerataan pemberian vaksin 2 dosis terlebih dahulu dibandingkan memulai pemberian dosis ke-3. Pemberian vaksin dosis ke-3 sebaiknya menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin yang sudah didapat sebelumnya ( homolog series ) karena dikhawatirkan pemberian vaksin yang berbeda ( heterologous series) akan lebih bersifat imunogenik. Meskipun sejauh ini belum ada data yang cukup untuk menilai mana yang lebih efektif mengenai pemberian vaksin dosis ke 3 dengan jenis vaksin yang sama atau vaksin yang berbeda.

Didalam penanganan pengendalian infeksi covid-19 diperlukan kerjasama yang solid antara pemerintah dan masyarakat. Meskipun saat ini angka kasus baru covid-19 terus menurun akan tetapi ancaman untuk kemungkinan munculnya strain virus Covid-19 yang baru masih menjadi perhatian seluruh dunia. Protokol kesehatan seperti menggunakan masker, rajin memcuci tangan dan menjaga jarak harus tetap terus dilakukan dalam rangka memutuskan mata rantai penularan covid-19. Pemerataan vaksin covid-19 menjadi salah satu cara yang efektif dalam rangka mengendalikan infeksi covid-19.

.